Cara Mengirim Anjing Peliharaan ke Luar Negeri – Belanda

Instagram @yukicola

Anjing merupakan salah satu binatang yang amat saya sukai. Air mata saya mudah sekali berlinang kalau melihat foto/video/cerita mengenai anjing. Ketika saya akhirnya memutuskan untuk memelihara anjing kembali, saya sudah berjanji agar selalu dapat memberikan yang terbaik untuk anjing saya.

Hingga sampailah saya yang harus pindah ke Belanda di tahun 2020 ini. Sebelum pindah saya sudah memastikan bahwa anjing saya (Yuki) bisa ikut bersama saya ke Belanda dan untungnya hal ini memungkinkan. Saya akan coba ceritakan perjalanan saya mengurus perpindahan anjing saya menjadi anjing Belanda he he he.

1. Buku Kesehatan Anjing

Pastikan anjing Anda telah divaksin lengkap dan memiliki buku kesehatan atau buku vaksinnya. Buku vaksin bisa didapat setelah vaksin dari dokter hewan yang berwenang. Biasanya buku ini berisi riwayat kesehatan dan vaksin yang dimiliki anjing Anda.

2. Microchip

Pemasangan microchip pada anjing Anda dapat dilakukan oleh dokter hewan. Bahkan kalau tidak salah Pemrov DKI pernah memberikan 500 pemasangan microchip secara gratis. Microchip dipasang di bawah jaringan kulit anjing pada bagian punggung antara bahu. Jenis microchip yang ditanam adalah Radio Frequency Identification (RFI) berbentuk silinder kaca kecil ukuran 12-15 milimeter dengan standar ISO 11784 dan 11785. Biaya pemasangan microchip pada anjing saya di Februari 2020 adalah sebesar Rp. 500.000,-.

3. Rabies Titer Test

Rabies titter test ini dilakukan untuk memeriksa apakah anjing Anda mengidap virus rabies atau tidak. Untuk beberapa negara test ini harus dilakukan di laboratorium yang sudah ditentukan oleh negara tersebut. Contohnya Belanda, mereka hanya menerima hasil dari laboratorium ini.

Saya melakukan test ini dengan dokter hewan yang juga memasangkan microchip ke anjing saya. Biayanya cukup mahal karena darah anjing saya ini harus dikirim ke luar negeri. Dokter hewan saya ini bekerjasama dengan jasa transport Groovy untuk mengirimkan sampel darah anjing saya ke laboratoriumnya.

Sedikit cerita, karena pandemi pengiriman sampel darah anjing saya ini memakan waktu yang cukup lama. Karena banyak penerbangan yang batal, embargo dll. Pengambilan sampel darah dilakukan Maret 2020 dan hasilnya keluar Juli 2020 yang awalnya kalau tidak ada pandemi hanya memakan sebulanan saja. Untungnya hasilnya anjingnya dinyatakan tidak ada virus rabies.

Biaya rabies titer test yang saya lakukan kemarin adalah Rp. 3.160.000,-, cukup merogoh kantong bukan? Tapi konon katanya, kalau mau lebih irit lagi, kalau kalian tidak terburu waktu dan tidak sedang pandemi, kalian bisa membawa sendiri sampel darah anjing kalian ke laboratorium tanpa harus menggunakan jasa transport.

4. Surat Rekomendasi dari DKP3 di Kota Domisili

Kunjungi Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan yang ada di kota Anda tinggal dan bawa dokumen-dokumen sebelumnya seperti buku vaksin, hasil rabies titer test, stambum jika ada dan KTP Anda.

Ketika saya mengurus surat rekomendasi ini ada sedikit kendala pihak DKP3 di kota saya ini sempat bersikeras kalau saya harus test rabies titer lagi di Puskeswan Jakarta, padahal saya sudah memiliki rabies titer dari Laboratorium BioBest Edinburg. Sebetulnya biayanya tidak seberapa, namun testnya memakan waktu dan karena pandemi mobilitas saya kurang optimal. Namun akhirnya mereka menyetujui hasil rabies titer test yang saya miliki.

Kemudian saya diberikan temu janji ke Puskeswan kota saya untuk memeriksakan anjing saya dan untuk mendapatkan Surat Keterangan Sehat dari dokter hewan. Setelah itu surat tersebut diberikan kembali ke DKP3. Hasil surat rekomendasi ini memakan waktu 2-3 hari kerja dan tanpa dipungut biaya alias Gratis! Saya suka ini he he.

5. Surat Pengeluaran Hewan Kesayangan dan Satwa

Surat ini diterbitkan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pengajuan ini bisa dilakukan secara online, bahkan pada saat saya mengajukan ‘hanya’ bisa online karena pada saat itu kantor Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan sedang dikarantina karena ada yang positif kasus covid19.

Anda bisa mengajukan di link ini. Pertama anda harus registrasi di situs tersebut. Kemudian buat permohonan baru dan isi semua data-datanya. Permohonan ini katanya memakan waktu hingga 1 minggu, namun permohonan saya selesai hanya dalam waktu satu hari saja. Luar biasa bukan! Biaya permohonan ini (September 2020) adalah Rp. 25.000,-.

6. Membeli Tiket Pesawat Anjing

Ya, dari semua langkah inilah langkah tersulit yang saya alami kemarin. Karena pandemi Covid19 ini, saya jadi kesulitan membeli tiket pesawat yang juga bisa mengangkut Anjing saya.

Disini Anda harus pastikan dulu dimanakah anjing anda bisa terbang bersama anda, apakah di bagasi atau di kabin bersama anda. Setiap maskapai memiliki peraturan yang berbeda-beda.

Setelah anda booking tiket pesawat Anda, segeralah hubungi maskapai dan reservasi tempat untuk anjing Anda. Nanti Anda akan diberitahu biaya yang harus dibayarkan untuk anjing Anda.

Karena anjing saya berukuran kecil, anjing saya bisa masuk ke kabin bersama saya, biayanya pun relatif lebih terjangkau karena bisa menggunakan tas saja bukan kandang kargo yang pastinya lebih berat. Biaya anjing ini biasanya dihitung sebagai excess bagage. Waktu itu saya menggunakan Turkish Airlines dan total biaya untuk anjing saya adalah Rp. 1.259.000,- untuk berat 3 kg (berat anjing dan tas nya).

7. Memilih Carrier untuk Anjing Anda

Jika Anda sudah tahu dimana anjing Anda terbang nantinya, Anda sudah bisa memilihkan carrier untuk anjing Anda. Kalau anjing Anda harus di bagasi, maka Anda harus membeli pet cargo yang berstandar IATA. Yang sering saya temui di online shop itu merek SKUDO. Jangan lupa pastikan ukurannya juga sesuai dengan standar IATA. Bisa dicoba di situs ini.

Kalau anjing Anda bisa masuk ke kabin, anda bisa juga memilih carrier yang berbentuk tas. Kalau kemarin yang saya beli yang sudah berstandar IATA juga dengan merek Petmate Soft-Sided Kennel Cab Pet Carrier seharga Rp. 224.000,-.

Tips. untuk teman-teman yang anjingnya belum terbiasa dengan pet cargo atau tas anjing, usahakan membelinya jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Jadi teman-teman bisa membiasakan anjingnya terlebih dahulu biar tidak terlalu stres saat perjalanan nanti.

8. Surat Karantina

Mengurus surat karantina ini bisa dilakukan 1-3 hari sebelum keberangkatan. Untuk menghindari anjing saya stres sebelum keberangkatan, jadi saya pergi ke karantina 3 hari sebelum keberangkatan. Bawalah dokumen-dokumen dan anjing anda (walaupun pada akhirnya karena pandemi anjing saya tidak diperiksa/dilihat).

Proses di karantina ini cukup mudah selama teman-teman sudah melengkapi dokumen-dokumen yang sudah disebutkan sebelumnya. Prosesnya bisa selesai dihari itu juga asalkan teman-teman datang dari pagi hari. Nantinya Anda akan mendapatkan 2 lembar surat karantina, satu untuk petugas Bandara kota keberangkatan dan satunya untuk petugas Bandara kota kedatangan.

Biaya yang dikeluarkan untuk mengurus surat karantina disini adalah sebesar Rp. 15.000,-. Pembayaran dilakukan di mesin EDC, dan bank-bank yang tersedia kurang lengkap. Saya kurang ingat bank apa saja yang tersedia, tapi Bank BCA dan Mandiri yang saya miliki tidak ada di daftar mesin EDC tersebut. Akhirnya saya minta tolong orang disitu dan saya bayar tunai ke orang tersebut.

Sebetulnya prosesnya tidak sulit dan tidak memakan biaya yang mahal, hanya memakan waktu saja. Kalau dihitung-hitung biaya yang kemarin saya keluarkan itu sekitar Rp. 5.500.000,- sudah dengan tiket anjing saya, carrier, transport mengurus dokumen dan karantina, microchip, rabies titer test dll.

Untuk perbandingan harga memang bisa 3-4x lipat harganya dibanding anda mengurus sendiri. Untuk pengiriman ke Amsterdam, Belanda saya mendapatkan penawaran harganya sekitar 15 juta belum termasuk tiket pesawat anjing dan rabies titer test.

Selamat mencoba yah, semoga tulisan ini membantu dan dipermudah semua urusan Anda!

You may also like

17 Comments

  1. Mba, kalau kucing/anjing belum divaksin penuh gimana ya? Saya rencana mau bawa kucing saya ke Belanda, tapi belum pernah vaksin sama sekali. Karena terburu waktu, saya mau utamakan vaksin rabies dulu (untuk persyaratan). Kalau masih ada waktu, setelah vaksin rabies baru akan vaksin yg lainnya

    1. Halo Mbak Dinda, maaf baru baca. Kalau setahu saya, syarat2nya itu saling berkaitan gitu. Contoh, pas di DKP3 itu saya gak ditanyain tentang vaksin lengkap bahkan vaksin rabies gak ditanya juga, hanya lebih ke hasil test rabies. Tapi pas ke puskeswan saya diminta buku vaksin, dan diperiksa kelengkapan vaksin2nya. Nah karena disini karena saya sudah vaksin lengkap, saya kurang tahu juga sih mba apa itu jadi persyaratan atau nggak. Memangnya mbak Dinda rencana bawa kucingnya kapan?

      1. Selamat pagi Mba, salam kenal. Artikel ini sangat bermanfaat dan sangat membantu saya.

        Saya berencana pindah ke Perancis dan bawa 2 anjing saya Juni ini, dan berencana untuk urus dokumentasi sendiri tanpa agent. Saat ini sedang tunggu hasil titer test dari awal Maret ini. Saya tinggal di Bali, kota asal Bogor, jadi agak lebih ribet untuk transport ke Jakarta dulu. Saya mau tanya, untuk saya apakah mengurus surat rekomendasi DKP3 di kota domisili itu di Jakarta (kota keberangkatan) atau di Bogor (hometown saya)? (Mengingat Bali itu red zone). Dan apa saya harus datang langsung ke kantornya tanpa membawa anjing? Dan apa harus ke Puskeswan yang ditunjuk oleh DKP3 atau bisa ke dokter hewan komersial lain untuk dapat SKKH?

        Terima kasih ya Mba dan selamat beraktivitas.

        Salam,

        Stephany

        1. Hi Stephany, maaf sekali baru balas, entah mengapa komen ini masuk ke spam 🙁

          Sepertinya sudah telat untuk balas komen ini, tapi mungkin bisa membantu pembaca lain yg punya pertanyaan seperti ini.

          Untuk pengajuan dkp3, setahu saya diajukan di kota tinggal aktif (domisili). Kalau pengajuan awal (dkp3) tidak perlu bawa anjing, kecuali puskeswan-nya satu tempat dengan dkp3. Kalau di Depok, puskeswannya tidak satu lokasi, jadi saya tidak bawa anjing saya.

          Untuk puskeswannya, harus yang ditunjuk oleh dkp3.

          Semoga membantu.

        2. Informasinya bermanfaat sekali. Saya berencana membawa 3 anjing saya ke Belanda. Test rabies sudah ok dari UK lab. Hanya kalau boleh info, apakah benar ada masa tunggu 90 hari dari tanggal test darah sampai pet bisa masuk ke Belanda?

  2. Makasih Mba responnya 🙂 Saya rencana Januari baru akan apply MVV, Mba. Jadi sambil persiapan MVV sambil mau urus2 persyaratan buat bawa kucing juga. Ke Belanda kalau MVV&dokumen buat kucing udah lengkap insyaAllaah. Sebenernya udah dari berbulan2 yg lalu cari2 info untuk bawa kucing, tapi baru dari blognya Mba yg bener2 jelas step by stepnya. Iya nih salah saya juga gak urusin vaksinnya dari dulu. Mba, boleh minta alamat emailnya kah? Masih ada yg mau ditanyain hehe. Makasih banuak sebelumnya 🙂

    1. Hi Fibi, maaf baru bisa balas, somehow banyak komen yang terdeteksi spam :(. Anyway, ternyata link sebelumnya expired juga, saya sudah update di blog, tapi ini link terbaru untuk daftar approved labs nya:

      EU countries: https://food.ec.europa.eu/animals/movement-pets/approved-rabies-serology-laboratories/approved-rabies-serology-laboratories-eu-countries_en

      Non EU countries: https://food.ec.europa.eu/animals/movement-pets/approved-rabies-serology-laboratories/non-eu-countries_en

  3. Pagi Mba, salam kenal.
    Saya berencana untuk pindah juga ke belanda dan anjing sy toy poodle jg nih hehe.
    Mba, mau tanya :
    1. Saat proses surat karantina itu maksudnya hewan harus nginap disana ya?
    2. Perjalanan ke belanda kan cukup jauh ya mba, nah gimana soal poop/kencing dan makan serta minum nya mba? Dgn kondisi anjing dibawa ke kabin. Apakah hanya bisa saat transit ya?
    3. Untuk tiket membawa hewan ke kabin apakah business atau economy bisa mba?

    Terima kasih sebelumnya, Mba 🙏🏼

    1. Hi April, maaf baru bisa balas, somehow banyak komen yang terdeteksi spam 🙁. Tapi sepertinya kamu sudah kirim via email juga ya? Anyway, Saya coba balas lagi disini ya, siapa tahu ada yang butuh jawabannya juga:

      Saya coba jawab ya..

      1. Tidak perlu, proses “karantina” hanya membawa anjing ke tempat karantina dan dicek sama petugas bersangkutan. Waktu saya mengurus, masih jaman covid, bahkan anjing saya gak dilihat :”). Tapi kalau sudah kembali normal, seharusnya anjing akan diperiksa.

      2. Iya, waktu itu saya tanya ke dokter, sebetulnya anjing (dewasa) bisa tahan pee/poop sampai 24 jam, apalagi kan ditaruh di tas ya, jadi anjingnya gak bisa pee/poop. Nah, waktu itu saya transit di turkey, disitu ada ruangan khusus buat pet, tapi karena anjing saya stress, tetap gak pee/poop sih.

      3. Bisa dua2nya, mungkin kalau bisnis anjingnya lebih leluasa ya, kan lebih lega. Tapi waktu itu saya pakai ekonomi. Dan lagi2 krn waktu itu masih pandemi, jadi baris kursi saya kosong, jadi saya bisa taruh anjing di kursi (kecuali take off & landing, anjing harus di dalam tas dan di bawah kaki)

      Semoga lancar ya. 🐶

  4. Selamat Pagi Mbak, sangat mencerahkan postingannya buat yg mau bawa pet nya ke LN. Saya ada rencana bawa Kucing saya ke LN, mau bertanya mbak mengenai pengurusan Surat Karantina. Pengurusannya di kantor karantina mana Mbak? Apakah di Bandara ? Apakah Mbak masih punya alamat Kantor Karantina nya
    Terima kasih, selalu semangat sharing yang bermanfaat.

  5. Kami hendak membawa Adik Gukguk kami ke Swiss.
    Mohon Kontak Dokter yg membantu Mbak ke Belanda.
    Trims.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *